Pagi ini terasa begitu berbeda, penuh dengan kedamaian dan juga kesejukan.
Kubuka
kedua mata perlahan memandang jam di dinding kamar yang berdetak tanpa
henti seiring bergulirnya waktu, jam lima lewat tiga puluh lima menit,
terlalu pagi untukku membuka mata apalagi di hari minggu. Udara pagi ini
pun memberi kenyamanan lebih untuk tetap berada di balik selimut dan
menghangatkan badan berusaha menghilangkan rasa dingin yang menyengat.
Kualihkan
pandanganku kearah jendala kamar, hujan rintik masih tersisa mengguyur
kota ini setelah hujan deras semalam yang membuat aku menggigil
kedinginan. Sayup kudengar kicau burung yang bernyanyi merdu diantara
suara rintik hujan yang menyapa lembut kaca jendala kamar ini.
Perlahan
aku beranjak dari tempatku berlabuh malam tadi dan kulangkahkan kaki
menuju balkon kamar yang terbuka lebar dihadapanku. Kurasakan udara
dingin semakin menyengat seiring langkah kaki yang semakin mendekat
balkon itu, bau tanah yang terjamah oleh tetesan air hujan mulai tercium
oleh hidungku, bahkan aku seperti bisa merasakan dahaga tanah itu yang
terhapuskan oleh sentuhan lembut air hujan pagi ini. Indahnya pagi ini
pun semakin kurasakan saat mata ini melihat indahnya lahan hijau sawah
dan pegunungan yang membentang luas ditemani birunya langit berhiaskan
awan hujan yang menggelayut mesra tanpa ragu.
Seketika
mataku teralihkan dari semua keindahan itu, kutatap sebuah meja bulat
kecil yang ada di balkon kamar dan di atas meja itu kulihat dua buah
cangkir bermotif bunga mawar merah yang terlihat begitu elegant,
diantara cangkir tersebut kulihat sebuah poci putih yang juga bercorak
senada dengan cangkir tersebut, wangi kopi hangat yang keluar dari poci
tersebut begitu terasa hingga ke dalam lubuk jiwa ini menanti untuk
segera diminum menggantikan rasa dingin pagi ini dengan hangatnya
secangkir kopi.
Ada yang janggal bagiku, kenapa hanya
ada satu cangkir yang penuh kopi hangat berada di atas tatakan
cangkirnya di meja bulat tersebut, kemana satu cangkir lagi yang hanya
meninggalkan tatakan cangkirnya, dan pertanyaanku pun terjawab...
Dari
salah satu kursi rotan yang mengapit meja bulat berdirilah seseorang
yang kukenal, tubuhnya lebih tinggi dariku, kulitnya putih bersih,
diapun tersenyum padaku. Wajah itu, tatap lembut mata itu, senyum manis
bibir itu, semua masih sama seperti awal aku bertemu dan mengenalnya.
Setelah menyeruput kopi hangat dari cangkir yang berada di tangan
kanannya, dia pun menyapaku "Selamat pagi..."
Seketika
aku tersentak dan membuka mataku lebar-lebar, ternyata semua itu hanya
mimpi indahku di pagi yang dingin ini. Aku pun tersenyum dan bersyukur
karena mengenalmu. :)
No comments:
Post a Comment