Udara Minggu pagi ini begitu bersahabat, mentari bersinar hangat dan angin bertiup semilir. Secangkir kopi hangat dan roti bakar coklat-kacang berada diatas meja tak jauh dari tempatku bersantai di kursi malas. Ya, pagi ini aku berada di balkon kamarku. Tak seperti biasanya, karena hampir setiap pagi kuhabiskan sebagiannya untuk mengenang memory indah di balkon ini.
Aku menambil handphone dari saku celana dan menekan nomer hp seseorang yang telah mengisi hati ini sejak beberapa bulan terakhir ini.
“Hallo, Iya Mas.” Kudengar suara indah dari seberang sana.
“Hallo An, lagi apa kamu?” Aku menyapanya.
“Lagi mau mandi. Mas lagi apa?
“Aku? Aku… lagi mikirin kamu.”
“Really? Pasti Mas belum mandi deh.. hehe.”
“Ah kamu tau aja. Biarin deh, tapi tetep wangi dong.”
“Pasti wangi lah, siapa dulu Mas Reza ku gitu loh...”
“Kamu bisa aja deh…eh by the way nanti malam jadi kan?”
“Jadi dong… Mas jemput aku jam berapa?
“Aku jemput jam 7 ya?”
“Siap, boss.”
Aku meletakkan kembali HP ke meja. Senang sekali aku bisa ngobrol dengannya meski hanya melalui telfon. Malam ini, saatnya akan kuungkapkan semua perasaan yang telah lama terpendam, yang membuat hidupku lebih berwarna.
“Za, kamu jadi antar Mama?”
Suara penuh kasih sayang yang begitu kukenal membuyarkan lamunanku, dan tanpa kusadari Mama telah berdiri disampingku, lalu membelai lembut kepalaku.
“Mama…”
“Kamu melamun?”
“Ngga, Ma.”
Mama duduk di sebelahku, menatapku dengan lembut sambil tersenyum.
“Begitulah rasanya kalau sedang jatuh cinta, semua jadi indah ya?”
“Ah, Mama.”
“Hayo siapa orang yang beruntung itu?”
Aku memang sangat dekat dengan Mama, apapun yang terjadi pasti kuceritakan. Mulai dari masalah pertemanan, kerjaan, dan juga masalah percintaanku. Tapi untuk kali ini, entah mengapa aku belum berani bercerita.
“Nanti deh Reza kenalin kalau emang udah jadi pacar” Jawabku tersipu malu.
“Baiklah. Sekarang mandi dulu sana, nanti kesiangan.”
Mama mengecup lembut keningku, kemudian berlalu meninggalkanku. Aku sangat bersyukur mempunyai Mama yang bisa kuandalkan dalam setiap situasi. Seseorang yang hanya memelukku erat tanpa bertanya apa yang terjadi dan membiarkanku menangis saatku terpuruk. Seseorang yang tersenyum tulus saatku tertawa bahagia. Seseorang yang kuyakin akan selalu membuatku bahagia.
Waktu menunjukan jam makan siang saat aku dan mama tiba di Margo City. Kami memutuskan untuk menikmati makan siang di Hanamasa, resto favorit Mama. Dan kami ngobrol sambil menikmati makan siang.
“Jadi siapa pacarmu sekarang, Za?” Tanya Mama. Aku hanya tersenyum.
Pertanyaan Mama membuatku kembali teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Saat hatiku kembali bergetar setelah perpisahanku dengan Niken. Pertama kali aku merasakan rasa yang sama tetapi dalam bentuk yang berbeda, sangat berbeda.
Aku mengenal El sekitar delapan bulan yang lalu. Kami sama-sama ikut dalam sebuah komunitas cinta lingkungan. Saat itu kami hanya berkenalan di group bbm yang dibuat oleh komunitas tersebut. Kami sering saling berbalas coment di group tersebut, hingga suatu hari ada permintaan pertemanan di list bbm-ku. Sejak saat itu aku dan El semakin sering berkomunikasi.
Walaupun belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bisa menilai El. Dia pribadi yang menyenangkan dan supel. Dia senang mengobrol dengan topik apapun, bahkan hal kecil dapat menjadi sesuatu yang menarik jika diperbincangkan dengannya. Agak berbeda denganku, aku orang lebih senang mendengar dan lebih pendiam.
Hingga suatu hari aku dan El memutuskan untuk bertemu. Kami janjian bertemu hari Sabtu jam dua siang di Semanggi. Entah mengapa aku merasa resah dengan pertemuan ini, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi denganku. Jam dua kurang lima belas aku sudah tiba di Semanggi, aku langsung menuju Burger King tempat janjian kami bertemu, dan ternyata dia sudah sampai lebih dulu daripada aku. Dari kejauhan aku dapat melihat El yang duduk sendiri di pojok resto tersebut sambil menikmati ice cream coklat.
Dia menggunakan baju merah dengan garis hitam yang dipadu dengan celana jeans kasual. Tingginya tidak berbeda jauh denganku. Kulitnya putih bersih, rambutnya ikal, dan saat dia tersenyum dapat kulihat giginya yang putih dan rapi. Tidak berbeda dengan fotonya yang ada di facebook. Itulah awal aku bertemu dengannya.
Sejak pertemuan kami hari itu, kami semakin sering bertemu. Setiap Sabtu atau Minggu kami menghabiskan waktu bersama. Nonton dan makan menjadi rutinitas kami di akhir pekan selama beberapa bulan terakhir ini. Aku merasa semakin dekat dengannya, semakin mengerti siapa dirinya. Kurasa aku mulai menyukainya atau bahkan mencintainya.
Namun setiap kali aku ingin mengatakan aku menyukainya, entah mengapa aku merasa ragu. Berkali-kali rasa ragu ini membuyarkan niatku untuk mengatakan aku menyukainya. Semua ini karena Niken. Pertemuanku dengan El hanya berselang 2 minggu setelah perpisahanku dengan Niken. Niken memutuskan meninggalkanku untuk bekerja di London dalam jangka waktu yang tidak bisa dipastikan. Kami sepakat untuk mengakhiri hubungan karena kami tidak siap untuk hubungan jarak jauh. Meskipun sebenarnya aku ingin mempertahankan hubungan kami yang telah berjalan selama 6 tahun, tapi demi kebaikan bersama kami pun sepakat untuk berpisah.
Hal inilah yang membuatku ragu. Aku tidak ingin kedekatanku dengan El hanya menjadi pelarian karena hubunganku yang berakhir dengan Niken. itu akan menyakiti hati El dan juga hatiku. Kini, setelah dua bulan aku yakin El bukan pengganti untuk Niken, tetapi lembaran baru hidupku. Dan malam ini akan kuutarakan perasaanku padanya.
Cerita tentang aku dengan El bergulir begitu saja, Mama mendengarkan ceritaku tanpa menyela sekalipun hingga aku selesai. Beliau mendukungku untuk bersama El dan melupakan Niken.
***
Aku sampai di depan rumah El. Rumah minimalis berwarna putih itu terlihat sepi. Aku menekan bel rumah. Tak berapa lama, Bi Ijah keluar membukakan pintu gerbang.
“Eh Mas Reza.”
“El ada, Bi?”
“Ada, Mas. Mari silahkan masuk.”
“Terima kasih.”
Bi Ijah meninggalkan ku sendiri di ruang tamu. Tak lama kemudian El keluar dari kamarnya, dan dia tampak mempesona seperti biasanya meskipun dandanannya tidak terlalu istimewa. Hanya mengenakan baju kasual dengan make up tipis.
“Kelamaan nunggu, ya?”
“Ngga juga.” Kataku.
Setelah dia berpamitan, Aku dan El memutuskan untuk ke Andakar Steak Duren Tiga. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, aku masih tetap tidak bisa menahan rasa yang terus berkecamuk di dalam hatiku.
Malam itu Andakar ramai sekali, kami harus menunggu lebih dari 20 menit untuk bisa parkir dan masuk ke dalam resto. Satu tempat yang tersisa hanya di pojok ruangan. El memesan satu Sirlon import dan Citrus, sedangkan aku memesan satu Tenderloin import dan teh manis hangat. Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu pesanan kami datang. Bahkan kemudian sambil makan kami masih tetap ngobrol. Diiringi alunan lagu Jazz yang mendayu membuat malam itu begitu sempurna untukku. Kesempurnaan malam itu akan semakin lengkap bila El resmi menjadi kekasihku.
“El, ada yang ingin kukatakan padamu.”
El terdiam sesaat.
“Mau ngomong apa, Mas?”
Kutatap mata El, dan kugenggam erat jemarinya.
“El, aku tahu kita baru saling mengenal. Aku tahu masih banyak yang harus kita pahami satu sama lain. Tapi untukku, kedekatan kita beberapa bulan terakhir ini sudah cukup untuk mengatakan semua ini.”
“Kamu membuatku menjadi bingung. Apa sih, Mas?”
Ku tatap mata El, dan kulihat binar yang berbeda dari biasanya. Seketika itu juga kurasakan rasa ragu kembali hadir di dalam dada ku.
“El, may I ask you something?”
“Yes, please. Mau tanya apa?”
“Aku ingin tahu, adakah ruang di hatimu untukku? Bukan hanya sebagai seorang teman.”
El terlihat canggung dengan pertanyaanku, tak ada kata yang terucap, hanya senyum yang kulihat dari bibirnya. Dia diam sesaat..
“Emangnya kenapa, Mas?” dia bertanya.
“Karena aku sayang kamu.”
Keheningan kembali datang di antara kami. Kulihat wajah El sedikit berubah, raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia berusaha untuk tersenyum, tapi aku tahu dia tidak ingin. Sesaat kami hanya saling berpandangan tanpa kata.
“Mas, Aku tersanjung. Mas baik banget…” Dia tidak melanjutkan ucapannya.
“Dari pertama kita bertemu aku tahu aku suka kamu. Saat kamu bilang kamu suka aku, aku tahu aku semakin menyukaimu. Aku ingin mengatakan ini semua sejak dulu, tapi kamu tahu kan alasanku saat itu. Aku memintamu untuk bersabar, aku memintamu memberikan waktu untukku agar aku mampu memulainya lagi. Dan kini aku sudah mengungkapkan semua rasa yang selama ini kupendam. Sekarang semua terserah padamu.”
Kami kembali terdiam, tidak ada kata yang terucap darinya.
“El, aku minta kamu jujur. Apapun yang akan kamu katakan takkan mengubah apapun. Aku akan menerimanya”
“Mas, kamu tahu aku juga sayang kamu..” El berhenti sejenak dan menghela nafas. “Tapi… Aku ngga bisa membalas rasa cintamu…”
Mendengar apa yang dikatakannya, kurasakan jantungku berdetak sangat cepat. Udara malam yang sejuk malah membuatku gerah. Sinar rembulan yang bersinar seperti hilang ditelan gelapnya malam. Suasana malam itu seketika menjadi sangat tidak bersahabat denganku. Bahkan kurasakan nyawaku perlahan keluar dari ragaku. Aku berusaha meredam rasa kecewaku dan bertanya padanya.
“Kenapa El?”
“Aku ga bisa Mas, semua udah berubah dan terlambat. Dulu saat kita baru saling mengenal, saat kita baru saling bertemu aku memang sangat menyukaimu bahkan aku juga mencintaimu. Tapi ingatkah kau apa yang terjadi saat aku mengungkapkan rasa suka ku padamu? Kau malah memintaku memberikan waktu untukmu berfikir. Mungkin bila saat itu kau menerimaku, aku yakin kita akan selalu bersama selamanya.”
“Kamu ingat kan kenapa aku waktu itu meminta waktu? Kamu ingat alasanku?”
“Tidak, emang apa alasanmu?”
“Aku pernah bercerita padamu, saat itu aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan Niken.”
“Lalu?”
“Itulah alasanku. Bila aku menerimamu saat itu, aku takut menyakitimu, El. Aku tidak mau menerimamu hanya sebagai pelarian saja. Itulah mengapa aku meminta waktu, untuk meyakinkan hatiku bahwa aku mencintaimu seutuhnya.”
Kulihat El menundukan kepalanya, kurasakan tangannya bergetar. Kulepaskan genggaman tanganku. Suasana hening untuk sesaat. Kemudian…
“Ada alasan lain yang ingin kamu sampaikan? Apakah sedang dekat dengan seseorang saat ini?”
El memalingkan wajahnya dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku.
“Iya, Mas. Aku sedang dekat dengan beberapa orang.” Dia menjawab tanpa memandangku
“Jadi itu alasanmu?”
“Mas, sejak saat kau memintaku memberikan waktu untukmu berfikir, aku merasa kau menolakku. Jadi… aku tidak mau mengharapkanmu lagi.”
Kami sama-sama membisu lagi.
“Maaf kan aku, Mas.” El tertunduk dan terdiam.
“Itu adalah pilihanmu, keputusanmu. Seperti apa yang tadi aku bilang, apapun jawaban mu tidak akan mengubah apapun. Yang penting aku udah ungkapin semua, dan aku tahu aku terlambat.”
“Mas.. Ga ada yang akan berubah kan diantara kita?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Meskipun aku yakin hal tersebut tidak mudah. Aku juga tidak ingin menjadi duri dalam hubungan mereka.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Kecewa, marah, kesal, rasa bersalah, sedih, benci. Aku tahu ini kesalahanku juga, kenapa aku mesti ragu di awal hubungan kami? Mengapa aku harus takut memulai sesuatu yang baru. Mengapa harus kulewati kesempatan indah itu. Aku bahkan belum sempat mengenalkannya pada mama.
Annisa Elisa Francis Imanuliasa, semua kenangan indah denganmu akan selalu kuingat, meskipun kau bukan milikku.