Wednesday, December 7, 2011

...kau dan dirimu...



Kau memang bukan matahari,
Namun sapa pagi dari mu membuka hari ku
Kau juga bukan rembulan,
Tapi pamit malam mu mengiringi mimpi indah ku

Kau bukan bintang di langit malam,
Namun sinar mata mu menerangi gelap malam ku
Kau tak akan pernah menjadi pelangi,
Tapi indah warna mu menghiasi indah hari ku

Kau tak perlu menjadi matahari
Kau tak usah menjadi rembulan
Kau juga tak harus menjadi bintang
Kau pun tak harus menjadi pelangi

Kau cukup menjadi diri mu!!
Dirimu seuntuhnya,
Dirimu apa adanya,
sekarang dan selama...

Wednesday, November 23, 2011

...harapan semu...

aku tak mengerti apa mau mu
mungkin aku memang tak dapat mengerti kamu
atau mungkin memang kau yang tak ingin dimengerti


sesaat kau kukenal
sesaat pula kau bagai orang asing bagiku
sungguh disayangkan, sesaat itu begitu berarti bagiku

awalnya aku tak ingin berharap padamu
namun saat kau memberikan tanda aku pun mulai mengharapkanmu
tapi semua itu hanya semu semata

Thursday, November 10, 2011

....aku, kamu dan dia....

Kutatap wajah Aryo yang tertidur pulas di sampingku, kuamati tiap sudut wajahnya, dia memang mempesona. Kubelai lembut rambut ikalnya dan kukecup pipi tembemnya, sesaat mata yang tadi terpejam perlahan terbuka dan menatapku dengan penuh kasih sayang.



“Morning, Iyo.” Sapaku.

“Morning, Ei.” Aryo tersenyum mengecup hangat pipiku.



Pagi ini terasa begitu indah, karena dia ada di sisiku dan menemaniku walau hanya diam dalam peluknya. Kurasakan hangat sentuhannya membelai tubuhku, dan aku tak ingin melewatkan saat – saat bersamanya walaupun hanya sedetik pun.



“Kamu jadi ke PIM sama Ichsan, Ei?”

“Jadi, nanti agak sore. Kamu jadi ke rumah Citra?” tanyaku tak bersemangat.



Aryo tak menjawabnya, dia hanya membelai lembut rambutku dan memeluk tubuhku semakin erat, aku diam tak bergeming. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kuungkapkan saat Aryo bersamaku, pertanyaan tentang Citra.



 Waktu berlalu tanpa kusadari dan entah berapa lama aku tertidur pulas di pelukan Aryo, aku tersadar saat handphoneku berdering.



“Hallo, San.”

“Woi cuy, dimana loe? Dari tadi gue telpon ga loe angkat. Btw, ntar gue ga jadi ke PIM, soalnya nyokap minta anter ke tempat saudara nih.” Suara Ichsan terdengar bagai petir siang hari tanpa hujan.

“Iiihh suara loe pelanin napa, sakit kuping gue dengarnya. Yaah, gimana sih loe, trus gue sama siapa dong ke sana? Kalau sendiri gue juga males ah.”

“Hehehehee, sorry cuy, nyokap juga baru bilang nih. Kalau gue ga anterin ntar durhaka gue dong. Loe ajak Aryo aja gih.”

“Ga bisa, dia udah ada acara. Ya udah gue juga ga jadi deh, ga apa – apa lo anter nyokap aja. Salam sama nyokap lo yah.”

“Sip cuy, ntar gue sampein salam lo. Capcus yah, bye.”



Ichsan memang sahabat karibku, dia tau semua yang terjadi dalam hidupku, dan dia orang yang pandai menjaga rahasiaku.



“Pasti si Ichsan yah? Suaranya menggelegar.”

“Iya, dia kasih kabar kalau nanti sore dia ga jadi ke PIM. Aku juga males ah kalau sendiri ke sana.”



Kulirik jam di handphoneku, jam tiga lewat empat puluh lima menit sore hari.



“Kamu bisa ga nemenin aku ke PIM?” Pintaku .

“Aku kan mau ke rumah Citra, kan kamu juga tau itu.”

“Kenapa sih selalu Citra dan Citra lagi.” Kulepaskan pelukan Aryo dan duduk di ujung tempat tidur.

“Ei, please, kita kan udah sering membahas semua ini.”

“Tapi kalau begini terus aku bete juga, Yo, tiap saat selalu ada Citra dan Citra terus.”



Aryo pun beranjak dari tidurnya dan duduk di ujung tempat tidur yang berlawanan denganku.



“Kenapa sih ga kamu pentingin aku dari pada Citra? Selalu Citra dan Citra. Lalu aku ini apa?”

“Please, Ei, aku ga mau cuma karena masalah ini kita ribut lagi.”

“Tapi, Yo..”



Belum selesai aku berbicara, kulihat Aryo melangkah menuju kamar mandi, aku hanya tertegun terdiam melihatnya. Perasaanku kembali tak menentu, mengapa selalu ada Citra diantara kami berdua.



Satu jam berlalu, akhirnya Aryo keluar dari kamar mandi, dan dia sudah terlihat rapih. Kaos polo biru serta jeans hitam sudah melengkapi penampilannya sore itu. Aryo menghampiriku dan duduk disebelahku. Dia menatapku dan menggenggam erat tanganku.



“Ei, kamu tau kan, kita sudah membahas semuanya sebelum kita menjalani hubungan ini. kamu juga sudah berjanji akan siap menerima semuanya, apapun itu. Apa kamu ragu padaku?” Aryo menatapku penuh arti.

“Aku bukannya ragu padamu, aku percaya seutuhnya. Tapi aku mohon kamu mengerti perasaanku, tidak mudah bagiku menjalani ini semua. Tiap kamu bersamanya aku merasakan kekecewaan dalam diriku. Saat kulihat kau menggenggam tangannya, kurasakan sakit dalam hatiku. Apa lagi tinggal menghitung hari…” aku tak dapat menyelesaikan kalimatku.

“Aku tau, aku paham dan aku juga tak ingin mengecewakanmu. Tapi kumohon mengertilah juga keadaanku, kuharus menjalani ini semua dengan perjuangan yang tak mudah. Percayalah, tidak akan ada yang berubah diantara kita sampai kapanpun dan apapun yang terjadi aku akan selalu menyayangimu dan kuharap kau akan selalu menyayangiku.”



Aryo memeluk erat tubuhku dan membisikan kata yang membuatku terdiam “I love you forever” dan dikecupnya pipiku. Kuhanya dapat terdiam saat Aryo berpamitan untuk menuju rumah Citra, wanita yang akan dinikahinya tiga minggu lagi.



Begitu berat jalan yang telah kupilih, untuk hidup bersama seseorang yang juga mencintai orang lain dalam hidupnya. Walaupun aku tau semua resiko yang akan kuhadapi dalam perjalanan hubungan ini sejak awal, namun dalam kenyataan semua itu jauh lebih berat.



Setiap dia tidak ada di dekatku dan aku tau dia bersamanya,itu membuatku merasa tersakiti. Setiap aku melihat dia bersamanya, memegang tangannya, memeluknya, bahkan saat dia menciumnya, kurasakan jantungku bagai tertusuk jutaan samurai. Apalagi bila aku teringat hari pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung minggu, membuatku semakin membenci Citra. Kenapa harus Citra? Kenapa bukan aku yang dinikahi Aryo?



Tapi, apa dayaku, aku tau apa yang aku jalani saat ini adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Apa yang aku harapkan dari hubungan ini? Menikah? Kurasa tidak mungkin. Semua ini hanyalah kebahagian semu yang membelengguku sekarang dan mungkin selamanya. Andai saja hanya ada aku dan kamu tanpa dia, hanya ada Eri Andri Kusama Putra dan Putra Dwi Aryo tanpa Prastiwi Citra Wulandari.

Friday, November 4, 2011

....sebuah foto PP bbm....

hari ini aku sedikit tau lebih tentangnya dari PP bbm yang dia pajang, bbeeeeeeerrrrrrrraaaaaaaaatttttttttt cuy.... #eeeaaaa kayanya mundur aja dah klo begini hehehheee.... 

sejak awal harusnya aku sudah tau apa yang kaya gini bakal terjadi, tapi dengan bodohnya aku berusaha memaksakan diri untuk... 

tapi entahlah, mengapa rasa ini tetap tak bisa dibohongi, dan seperti biasa bicara tentang rasa tak akan semudah membalikkan telapak tangan.. hiks2... 

biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin emang dia hanya bagian manis dalam perjalanan hidupku... 


Saturday, October 29, 2011

...warna dalam rasa...

aku tak mengerti apa yang kurasa
atau bahkan aku tak akan pernah mengerti
aku tak pahami apa yang kualami
atau mungkin aku tak akan pernah pahami

sekuat apapun kucoba untuk memahaminya
sekuat itu pula rasa ini menjadi misteri
sekuat apapun kucoba untuk melupakannya
sekuat itu pula rasa ini menghantui dan membelengguku

aku tak tau apa yang harus aku lakukan
aku tak tau apa yang harus kuperbuat
atau mungkin memang rasa ini tidak harus kupahami atau kumengerti
mungkin memang rasa ini hanya harus dirasakan tanpa kupahami

biarlah semua ini menjadi warna baru dalam perjalanan hidupku
warna baru yang akan menghiasi lembar putih cerita hidupku...

Thursday, October 27, 2011

...#sempurna...

Dilihat dari apakah seseorang bisa dibilang #sempurna?

cantik?
ganteng?
kaya?
jendral?
presiden?
atau apa?

Tak akan ada yang dapat mengartikan dengan pasti kata #sempurna dalam menilai seseorang, karena tiap individu memang diciptakan berbeda-beda.

Se-maksimal apapun kita berusaha #sempurna dihadapan manusia sampai kapan pun kita tidak akan bisa #sempurna, karena tiap individu mempunyai penilaian yang berbeda - beda tentang arti dan makna #sempurna.

"I wasn't born to be perfect, I was born to be myself"

Tuhan telah menciptakan tiap orang dengan ke-unik-annya masing - masing, sadari dan syukirilah itu!!

Tuesday, October 25, 2011

...sebuah pertemuan...

akhirnya kemarin 24 Oktober 2011 kami bertemu hehheee...

cuma bentar sih, paling cuma setengah jam. janjian ketemuan di mall daerah Kuningan, sekalian ada yang mau dibeli.

kami janjian jam pulang kantor, sebenarnya sampe di lokasi sama loh, sekitar jam setengah tujuhan tapi karena sinyal kampret kami baru ketemu sekitar jam tujuhan.

dia ga beda sama di PP awal dia pasang waktu itu, cuma saya kira dia jauh lebih tinggi dari saya tapi ternyata ga terlalu tinggi juga kok, dan dia lebih putih dari yang saya bayangkan, manis kok hehheee...

kalau dari segi fisik dia menarik...

dia menemaniku mencari seseuatu itu dan membantu memilihkannya untukku, selera kami sama ternyata :) dan akhirnya aku mengambil yang satu selera dengannya. lalu aku mengantarnya membeli obat karena ternyata dia sedang masuk angin.

udah sih gitu doang, padahal pengen banget ngajak dia makan biar lebih deket gitu [modus] tp mengingat dia lagi rada kurang enak badan ga jadi deh ngajaknya, biar dia cepet sampe kos n isitrahat ajeh deh..

pertemuan singkat yang penuh kenangan, setidaknya untukku, dan aku menyukainya... :)

Thursday, October 20, 2011

...andai Andini...



“Ayo dong, Wir, temenin aku.” Andini merajuk
“Kalau jam segitu aku ga bisa, aku kan pulang kantor jam lima, sampai lokasi bisa jam delapan lebih loh. Kamu tau sendiri macet di Jakarta seperti apa.”
“Please….” Andini memandangku penuh harap
“Haduh kamu ini, ya. Emang jam berapa acaranya?”
“Jam setengah delapan, tapi ga apa-apa kamu datang aja nyusul. Aku sampai malam kok. Ya, mau yaaa...”
“Ya sudah, aku datang jam setengah sembilan ya.”
“Asyik, makasih. Kamu emang baik.” Andini memelukku.
Entah mengapa aku sering tidak bisa menolak permintaan Andini, gadis manis yang kukenal dari seorang teman. Seperti hari itu, dia memintaku menemaninya untuk hadir pada acara halal bihalal teman-teman kampusnya, dan aku pun mengiyakannya.
***
Jam digital di dekat lemari team marketing menunjukan pukul empat lewat empat puluh lima menit saat handphoneku berdering dan nama Andini yang muncul di layar.
“Hallo.”
“Ntar jadi, ‘kan? Aku udah on the way ke lokasi nih.”
“Bentar lagi, aku mau rapihin file dulu.”
“Nanti kalau kamu udah sampe kamu kabarin aku, ya.”
“Ok.”
Jam lima pas aku bergegas menuju Honda Jazz silverku yang kuparkir di lantai tiga gedung kantorku. Seperti perkiraanku, lalu lintas sore itu dari kantorku di daerah Blok M hingga ke lokasi acara di daerah Thamrin padat merayap.
Andini menelfonku lagi.
“Udah sampai mana?”
“Udah di depan Indosat, bentar lagi ya, nenek bawel.”
“Biarin bawel tapi kan manis.”
“Udah jangan telpon terus aku ‘kan lagi nyetir”
“Iya, kakek bawel.”
Entah mengapa ada rasa yang berbeda tiap dia menyebutku kakek bawel, bukankah kakek itu pasangannya nenek, ya? Oh Tuhan, apakah ini suatu pertanda ataukah hanya rasaku saja. Rasanya menyenangkan seperti ini, sekaligus pedih jika membayangkan apa yang akan terjadi minggu depan.
Dua puluh menit kemudian aku tiba di lokasi acara, aku bergegas menuju ruang Mawar yang berada di lantai 10 tempat acara halal bihalal berlangsung. Setibanya di depan pintu aku segera menghubungi Andini.
“Hallo, udah sampe ya?”
“Udah. Aku di depan pintu ruang Mawar.”
“Ya udah aku ke situ sekarang, jangan pergi kemana – mana!’ 
Tak berapa lama kemudian aku melihat Andini menghampiriku. Dia begitu mempesona dengan menggunakan gaun panjang berwarna biru tua dan sepatu hak tinggi dengan warna yang hampir sama. Rambutnya yang hitam panjang tertata rapi. Wajahnya yang manis tersapu make up yang minimalis namun terlihat menarik, dan yang membuatku tak dapat berpaling darinya adalah tatap matanya yang teduh serta senyum manis dari bibirnya yang tipis merekah. Oh Tuhan, begitu sempurna ciptaan-Mu ini.
“Eh kok malah bengong, hayu atuh masuk.” Andini menggandeng tanganku
“Tunggu dulu, ini acara ga ada dresscode, ‘kan? Aku pake batik begini ga apa-apa?”
“Ga apa – apa, kebanyakan temen cowokku yang datang pada pake batik. Mereka juga sama baru balik kantor.”
Aku dan Andini memasuki tempat acara halal bihalal. Astaga, banyak sekali yang datang malam itu, dan memang benar sebagian besar laki – laki yang datang menggunakan batik sedangkan yang wanita lebih banyak yang menggunakan gaun malam.
Setelah hampir jam setengah dua belas malam kami meninggalkan tempat itu, begitu juga sebagian besar teman Andini yang lain.
“Seru ya acaranya, Wir?”
“Iya, tapi aku ga kenal siapa – siapa. Udah berapa lama kalian ga ketemuan?”
“Rata – rata empat tahun, ada sih yang masih suka kumpul – kumpul, tapi cuma beberapa orang.”
“Lama juga, tapi hebat kalian masih saling komunikasi”
“Harus dong, meskipun lebih banyak komunikasi lewat fb. Eh mampir dulu ya, Wir, aku mau beli nasi uduk yang deket Indomart. Kamu lapar ga?”
“Lapar dong, tadi ‘kan ga sempat makan. Sebelah mana?”
Andini memanduku menuju tempat yang dia maksud. Kami memesan menu yang sama, nasi uduk dengan ayam bakar dada ditambah tempe tahu goreng dan segelas teh manis hangat. Kami pun makan dengan lahap, saat berada di tempat halal bihalal kami tidak bisa leluasa menikmati hidangan yang ada karena terlalu banyak orang yang datang dan Andini terlalu asyik bercengkrama dengan teman – temannya. Satu hal yang membuatku bangga pada Andini dia tidak membuatku canggung berada diantara teman – temannya, aku bahkan merasa sudah kenal mereka melalui celotehan Andini.
Mobilku melaju memecah keheningan malam menuju apartment Andini yang berada di daerah Permata Hijau. Sepanjang perjalanan Andini terus saja berceloteh tetang teman – teman kuliahnya. Andini memang senang bercerita, tipe wanita yang kusukai.
***
“Hallo.” kuangkat handphone yang berdering dengan mata masih terpejam
“Bangun…” Suara nyaring Andini terdengar dari ujung telpon
“Haduh, apa sih kamu pagi – pagi telpon, aku masih ngantuk.”
“Pagi dari Hongkong, jam setengah satu ini.”
Kulirik jam di dinding, astaga benar jam setengah satu siang.
“Biarin, aku masih ngantuk, Din.”
“Ya ampuuun. Eh ntar malam jadi kan, Wir?”
“Iya jadi, makanya jangan ganggu aku dulu aku mau tidur lagi biar ntar malam bisa nonton”
“Iya deh, kakek, tidur lagi sana, ntar kalau udah mau jalan kabarin, ya.”
“Iya, nenek.”

Aku berusaha untuk kembali memejamkan mata, tapi aku tidak bisa tidur. Malam ini malam minggu, dan aku berjanji menemani Andini nonton Final Destination 5 di PIM jam sembilan lewat sepuluh menit. Andini memintaku juga menemaninya untuk final fitting di daerah Radio Dalam sebelum kami ke PIM sore ini, dan aku janji untuk menjemputnya jam tiga sore.
Kami tiba di butik untuk final fitting sekitar jam lima sore, tante Liem pun sudah menunggu kami.
“Mari masuk, katanya mau datang jam empat?” sapa tante Liem
“Macet, Tante.” jawabku
“Ya sudah ga apa – apa. Dini, kamu fitting duluan, nanti baru Wirya. Kamu tunggu di sini aja yah, katanya pamali kalau fitting barengan.” celetukan tante Liem membuatku tersenyum malu.
Andini dan tante Liem memasuki ruang fitting, aku menunggu giliran di ruang sebelah. Jantungku kembali berdetak lebih kencang bila mengingat apa yang akan terjadi Sabtu Minggu depan. Tak lama kemudian giliranku pun tiba, gantian Andini yang menungguku. Kami meninggalkan butik tante Liem sekitar jam setengah tujuh, dan langsung menuju PIM 1 yang tidak terlalu jauh dari butik tante Liem di Radio Dalam.
“Udah pas bajunya?” tanyaku
“Udah. Kamu?”
“Udah.”
“Kamu pasti penasaran, ya?” goda Andini
“Ga tuh.” jawabku acuh
“Ah bohong, kamu pasti penasaran banget ‘kan bajuku kaya apa.”
“Au ah gelap.”
Andini mengelitik pinggangku
“Eh, jangan becanda aku kan lagi nyetir.”
“Iya, kakek”
Malam minggu itu kami habiskan dengan penuh keceriaan, tapi seiring berlalunya waktu aku merasa sedih. Ada yang kurasakan hilang saat aku meninggalkan Andini di apartmentnya sekitar jam satu pagi. Aku merasa malam minggu ini adalah malam minggu terakhir kami bisa bersama.
***
Dan tibalah hari ini.
“Lu siap menghadapi ini, Wir?” tanya Tri, sahabat karibku.
“Bagaimanapun gue harus siap, Tri.” jawabku datar
Aku dan Tri langsung menuju lokasi resepsi di Balai Samudra daerah Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam membisu, aku tahu Tri paham benar apa yang aku rasakan. Tiba di Balai Samudra kami segera bergabung dengan anggota keluarga yang telah menunggu, dan acara resepsi pun segera dimulai.
Ribuan tamu datang silih berganti, tamu yang datang pun dari berbagai kalangan. Dekorasi pelaminan yang didominasi warna biru muda, warna kesukaan Andini, terlihat begitu megah dengan tema pernikahan ala Eropa. Andini terlihat sangat cantik, berbalut gaun panjang berwarna biru muda, dengan tatanan rambut dan make up seperti putri kerajaan Inggris.
Acara resepsi pun dimulai, setelah pembawa acara mempersilahkan para tamu untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan mempersilahkan tamu untuk menikmati hidangan, saat untukku pun tiba. Aku naik ke atas panggung yang telah dipersiapkan, kutatap lekap ke arah pelaminan dan kuucapkan kata – kata yang begitu menyayat hati ini.
“Selamat kepada kedua mempelai, Andini Prana Puspita dan Jason Febrian Antony. Semoga langgeng dan bahagia selamanya, amin. Untuk para hadirin selamat menikmati hidangan yang telah disediakan dan saya akan coba menemani indahnya malam ini dengan lagu – lagu cinta untuk kita semua.”
Aku pun mulai mendendangkan satu per satu list lagu yang telah Andini dan Antony setujui untuk kunyanyikan di resepsi mereka. Hingga akhirnya aku harus menyanyikan lagu yang begitu membunuh jiwaku.

ketika kurasakan sudah ada
ruang di hatiku yang kau sentuh
dan ketika kusadari sudah
tak selalu indah cinta yang ada
mungkin memang ku yang harus mengerti
bilaku bukan yang ingin kau miliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada dihatiku

adakah ku singgah di hatimu
mungkinkah kau rindukan adaku
adakah ku sedikit di hatimu
bilakah ku menggangu harimu
mungkinkah kau tak ingin adaku
adakah ku sedikit di hatimu

bila memang ku yang harus mengerti
mengapa cintamu tak dapat kumiliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku

bila cinta kita tak kan tercipta
ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
adakah diriku singgah di hatimu
dan bilakah kau tau
kaulah yang ada di hatiku
kau yang ada di hatiku
adakah ku di hatimu?

“Untitled – Maliq n D’essentilas”

Andini menikah dengan Antony, kekasih hatinya yang menetap di Sidney. Selama lebih dari satu tahun aku menemani Andini melewati hari – harinya tanpa Antony, dan selama itu pula aku berharap lebih dari sebuah pertemanan dan persahabatan.
Aku Wirya Ramadhan Agustian, dan pekerjaan sampinganku sebagai weeding singer. Andai Andini tidak memaksaku untuk bernyanyi di hari pernikahannya, aku pasti tidak datang ke resepsi ini, karena aku tahu sejak awal aku menyukai dan mencintaimu, Andini. Andai saja kau bisa menjadi milikku.

Monday, October 17, 2011

..amazing weekend at Tidung Island...

last weekend was amazing weekend, liburan ke Pulau Tidung.. horeeee.... 

liburan itu diprakasai oleh teman2 kantor adik saya, samalah sama waktu ke Bali, bareng2 orang kantor adik. 11 orang, 6 orang cowok 5 orang cewek. saya bersama adik dan adik sepupu ikut rombongan itu...
kami kumpul di Angke seharusnya jam 6 pagi, namun karena telat dan macet kami baru bisa sampai jam 7 dan kapal yang seharusnya membawa kami ke Pulau Tidung sudah jalan, dan kami pun harus mencari kapal lain yang dapat membawa kami ke sana.

akhirnya kami dapat juga kapal yang bisa membawa kami ke sana, Alhamdullillah... kapal dijadwalkan berangkat jam 9 pagi. ini merupakan pengalaman pertamaku menaiki kapal laut, khawatir juga sih, takut mabok laut heheheee...

kami tiba di Tidung sekitar jam sebelas siang, langsung kami menuju homestay yang telah disediakan.. 

sebelum kapal berangkat minum dulu obat abti mabok a.k.a antimo. perjalan kami tempuh sekitar dua jam lamanya, awal perjalan semua terasa biasa saja namun sekitar setengah jam sebelum merapat ke Pulau Tidung guncangan kapal terasa lebih kencang, dan aku mulai merasa mual dan hampir muntah, tapi dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya.

pokoknya intinya weekend di Tidung itu sangat menyenangkan lah....

Tuesday, October 4, 2011

....teman...

sebagai seorang teman, bukan kah kita seharusnya menjaga satu sama lain yah? dalam hal apapun, contoh paling sederhana, bila teman kita sedang dalam masalah kita bantu untuk menyelesaikan masalahnya, atau minimal mendengarkan ceritanya tentang apa yang sedang terjadi, setidaknya dia akan sedikit merasa lega bisa berbagi masalahnya.

lalu, apakah seseorang yang mengaku teman tetapi tidak bisa menjaga perasaan orang yang diakuinya sebagai teman masih pantas untuk disebut teman?? saya rasa TIDAK!!!

memang bukan hal yang mudah untuk mengkontrol apa yang orang lain lakukan, karena itu adalah hak masing2 individu, tapi setidaknya berfikirlah dulu sebelum melakukan sesuatu yang kemungkinan bisa menyinggung perasaan orang lain. 

apa yang kalian lakukan mungkin kalian anggap sesuatu "hal" yang tidak berarti apa2, tapi bagi orang lain yang ikut terseret dalam "hal" itu, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bahkan bisa menyakiti perasaannya. mungkin karena kalian anggap itu hal yang biasa dan mungkin juga sering terjadi dalam hidup kalian, makanya kalian terlihat santai2 saja dalam melakukannya, bisa dibilang "tanpa dosa" melakukannya.. *plak2*

teman, tolong jaga perasaan teman mu, karena bila teman mu telah tersakiti oleh tindakan atau pun ucapan kalian kuyakin akan sulit untuk memaafkan apa yang telah kalian lakukan....



...kau menarik....

aku kangen....

loh kok bisa yah, emang dia siapamu? atau mungkin lebih tepatnya aku siapanya??
tak terjawab memang, lalu kenapa aku mesti merindukannya??
entahlah, terlalu bodoh untuk dijelaskan...

dia hanyalah sebuah pelangi indah yang muncul sesaat setelah hujan di dalam kehidupanku, pelangi yang membawa warna - warna indah yang tak akan pernah kulupakan. apanya yang dilupakan? memangnya apa yang sudah terjadi hingga tidak akan pernah aku lupakan??

tak banyak yang terjadi antara kami, kami berkenalan dan berkomunikasi, ya hanya itu saja. lalu kenapa aku begitu merindukannya. meridukan apanya? aku pun tak mengerti... yang aku tau pasti aku menyukainya dan tertarik padanya...

Saturday, September 24, 2011

....rasa yang terabaikan...

Status bbm mu malam itu membuatku panik setengah mati.

‘ Kok tau – tau drop begini yah :(( ‘

Aku berusaha untuk tak memperdulikan status bbm mu, tapi aku tak kuasa menahan rasa khawatir ini. Aku ingin tau apa yang sedang terjadi denganmu, bbm ku pun berbicara.

“Eeh, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Tak ada jawaban. Tiap menit kupandangi layar blackberryku, tapi tetap tak ada balasan darimu. Dua puluh menit berlalu dan kau tetap membisu.

“Kamu udah tidur yah?”

Sunyi membisu.

“Met istirahat yah…”

Tetap tak ada jawaban, panik. Jantungku berdetak semakin kencang, seakan berpacu seiring detak jarum jam bahkan lebih cepat. Malam yang dingin pun terasa panas membara, bahkan acara Opera Van Java kesukaanku tak dapat mengalihkan fikiranku darimu.

Detik demi detik berlalu tapi tetap tak ada kabar darimu. Aku ingin sekali menelponmu tapi kuurungkan niatku, aku ingin sekali langsung datang ke kosmu tapi juga kubatalkan niat itu.

Saat sang rembulan bersiap meninggalkan malam dan mentari mulai menyapa pagi, aku masih terjaga memikirkan apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Masih sama seperti semalam, tetap tak ada jawaban.

“Morning pagi... Bangun2…”

Tetap tak bergeming.
Hingga akhirnya kesunyian itu pun terhapuskan.

“Pagi”
“Iya aku sakit…”

Sial, setelah semalaman aku tak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi denganmu tapi kau balas bbm ku hanya seperti itu, tapi setidaknya aku lega kau masih hidup.

“Ya ampun, sakit apa? Trus sekarang gimana keadaanmu? Udah minum obat?”

Sunyi sesaat.

“Meriang + sakit kepala + lemes… Udah, ini mau istirahat…”
“Ooooh, ya udah met istirahat yah..”

Itu bbm ku terakhir untukmu. Kini lima hari berlalu, kau belum membalas bbm ku dan hatiku menjerit sedih. Selama lima hari aku menahan diri untuk tidak menghubungimu, selama itu pula aku mengamatimu dari status bbm serta twit di twitter mu. Selama itu pula aku berusaha untuk mengabaikanmu, dan selama itu juga kurasakan sakit dalam hatiku.

Cukup sudah, setelah sekian lama aku berusaha dekat denganmu, sekian lama pula kau memberikan harapan semu untukku, dan selama itu pulalah rasa ini tumbuh dalam jiwaku. Kini setelah kau memilikinya, kau abaikan aku. Bila itu mau mu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan berusaha mengabaikanmu, walaupun itu sulit bagiku. Sangat sulit bagiku untuk mengabaikan rasa dalam diri ini rasa yang tumbuh dan berkembang seiring waktu, aku sangat menyukaimu dan bahkan aku mencintaimu.

Sunday, September 11, 2011

......kamu.....

entah apa yang membuatnya istimewa?

aku suka matanya, mata dengan tatapan teduh menghanyutkan
aku suka bibir dan senyumnya, senyum penuh dengan keramahan dan kehangatan
aku suka pipinya, pipi tembem yang ingin selalu kucubit dengan penuh sayang
aku suka.... loooh, kok aku jadi suka semua yang ada di dirinya yah....

entah mengapa aku bisa begitu mudah menyukainya, padahal aku baru saja mengenalmu. apakah aku hanya menilai dari penampilan fisik semata? yah memang tak dapat kupungkiri aku menyukai penampilan fisiknya, dan hal itu kuanggap wajar, kamu memang menarik.

trus apa kabar sama "dont judge a book from the cover"?
nah, karena itu lah aku ingin mengenalmu lebih dalam, aku ingin lebih memahami pribadimu dan yang pasti aku ingin bersamamu.

but i don't know why, you seem out of my reach. i try to close with you, but sometimes you like a strangers for me. but thats ok, at least i'm happy to know you....




 

...sebuah keputusan...


Udara Minggu pagi ini begitu bersahabat, mentari bersinar hangat dan angin bertiup semilir. Secangkir kopi hangat dan roti bakar coklat-kacang berada diatas meja tak jauh dari tempatku bersantai di kursi malas. Ya, pagi ini aku berada di balkon kamarku. Tak seperti biasanya, karena hampir setiap pagi kuhabiskan sebagiannya untuk mengenang memory indah di balkon ini.

Aku menambil handphone dari saku celana dan menekan nomer hp  seseorang yang telah mengisi hati ini sejak beberapa bulan terakhir ini.

“Hallo, Iya Mas.” Kudengar suara indah dari seberang sana.
“Hallo An, lagi apa kamu?” Aku menyapanya.
“Lagi mau mandi. Mas lagi apa?
“Aku? Aku… lagi mikirin kamu.”
“Really? Pasti Mas belum mandi deh.. hehe.”
“Ah kamu tau aja. Biarin deh, tapi tetep wangi dong.”
“Pasti wangi lah, siapa dulu Mas Reza ku gitu loh...”
“Kamu bisa aja deh…eh by the way nanti malam jadi kan?”
“Jadi dong… Mas jemput aku jam berapa?
“Aku jemput jam 7 ya?”
“Siap, boss.”
Aku meletakkan kembali HP ke meja. Senang sekali aku bisa ngobrol dengannya meski hanya melalui telfon. Malam ini, saatnya akan kuungkapkan semua perasaan yang telah lama terpendam, yang membuat hidupku lebih berwarna.
“Za, kamu jadi antar Mama?”
Suara penuh kasih sayang yang begitu kukenal membuyarkan lamunanku, dan tanpa kusadari Mama telah berdiri disampingku, lalu membelai lembut kepalaku.
“Mama…”
“Kamu melamun?”
“Ngga, Ma.”
Mama duduk di sebelahku, menatapku dengan lembut sambil tersenyum.
“Begitulah rasanya kalau sedang jatuh cinta, semua jadi indah ya?”
“Ah, Mama.”
“Hayo siapa orang yang beruntung itu?”
Aku memang sangat dekat dengan Mama, apapun yang terjadi pasti kuceritakan. Mulai dari masalah pertemanan, kerjaan, dan juga masalah percintaanku. Tapi untuk kali ini, entah mengapa aku belum berani bercerita.
“Nanti deh Reza kenalin kalau emang udah jadi pacar” Jawabku tersipu malu.
“Baiklah. Sekarang mandi dulu sana, nanti kesiangan.”
Mama mengecup lembut keningku, kemudian berlalu meninggalkanku. Aku sangat bersyukur mempunyai Mama yang bisa kuandalkan dalam setiap situasi. Seseorang yang hanya memelukku erat tanpa bertanya apa yang terjadi dan membiarkanku menangis saatku terpuruk. Seseorang yang tersenyum tulus saatku tertawa bahagia. Seseorang yang kuyakin akan selalu membuatku bahagia.

Waktu menunjukan jam makan siang saat aku dan mama tiba di Margo City. Kami memutuskan untuk menikmati makan siang di Hanamasa, resto favorit Mama. Dan kami ngobrol sambil menikmati makan siang.
“Jadi siapa pacarmu sekarang, Za?” Tanya Mama. Aku hanya tersenyum.
Pertanyaan Mama membuatku kembali teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Saat hatiku kembali bergetar setelah perpisahanku dengan Niken. Pertama kali aku merasakan rasa yang sama tetapi dalam bentuk yang berbeda, sangat berbeda.
Aku mengenal El sekitar delapan bulan yang lalu. Kami sama-sama ikut dalam sebuah komunitas cinta lingkungan. Saat itu kami hanya berkenalan di group bbm yang dibuat oleh komunitas tersebut. Kami sering saling berbalas coment di group tersebut, hingga suatu hari ada permintaan pertemanan di list bbm-ku. Sejak saat itu aku dan El semakin sering berkomunikasi.
Walaupun belum pernah bertemu dengannya, aku sudah bisa menilai El. Dia pribadi yang menyenangkan dan supel. Dia senang mengobrol dengan topik apapun, bahkan hal kecil dapat menjadi sesuatu yang menarik jika diperbincangkan dengannya. Agak berbeda denganku, aku orang lebih senang mendengar dan lebih pendiam.
Hingga suatu hari aku dan El memutuskan untuk bertemu. Kami janjian bertemu  hari Sabtu jam dua siang di Semanggi. Entah mengapa aku merasa resah dengan pertemuan ini, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi denganku. Jam dua kurang lima belas aku sudah tiba di Semanggi, aku langsung menuju Burger King tempat janjian kami bertemu, dan ternyata dia sudah sampai lebih dulu daripada aku. Dari kejauhan aku dapat melihat El yang duduk sendiri di pojok resto tersebut sambil menikmati ice cream coklat.
Dia menggunakan baju merah dengan garis hitam yang dipadu dengan celana jeans kasual. Tingginya tidak berbeda jauh denganku. Kulitnya putih bersih, rambutnya ikal, dan saat dia tersenyum dapat kulihat giginya yang putih dan rapi. Tidak berbeda dengan fotonya yang ada di facebook. Itulah awal aku bertemu dengannya.
Sejak pertemuan kami hari itu, kami semakin sering bertemu. Setiap Sabtu atau Minggu kami menghabiskan waktu bersama. Nonton dan makan menjadi rutinitas kami di akhir pekan selama beberapa bulan terakhir ini. Aku merasa semakin dekat dengannya, semakin mengerti siapa dirinya. Kurasa aku mulai menyukainya atau bahkan mencintainya.
Namun setiap kali aku ingin mengatakan aku menyukainya, entah mengapa aku merasa ragu. Berkali-kali rasa ragu ini membuyarkan niatku untuk mengatakan aku menyukainya. Semua ini karena Niken. Pertemuanku dengan El hanya berselang 2 minggu setelah perpisahanku dengan Niken. Niken memutuskan meninggalkanku untuk bekerja di London dalam jangka waktu yang tidak bisa dipastikan. Kami sepakat untuk mengakhiri hubungan karena kami tidak siap untuk hubungan jarak jauh. Meskipun sebenarnya aku ingin mempertahankan hubungan kami yang telah berjalan selama 6 tahun, tapi demi kebaikan bersama kami pun sepakat untuk berpisah.
Hal inilah yang membuatku ragu. Aku tidak ingin kedekatanku dengan El hanya menjadi pelarian karena hubunganku yang berakhir dengan Niken. itu akan menyakiti hati El dan juga hatiku. Kini, setelah dua bulan aku yakin El bukan  pengganti untuk Niken, tetapi lembaran baru hidupku. Dan malam ini akan kuutarakan perasaanku padanya.

Cerita tentang aku dengan El bergulir begitu saja, Mama mendengarkan ceritaku tanpa menyela sekalipun hingga aku selesai. Beliau mendukungku untuk bersama El dan melupakan Niken.
                                                            ***
Aku sampai di depan rumah El. Rumah minimalis berwarna putih itu terlihat sepi. Aku menekan bel rumah. Tak berapa lama, Bi Ijah keluar membukakan pintu gerbang.
“Eh Mas Reza.”
“El ada, Bi?”
“Ada, Mas. Mari silahkan masuk.”
“Terima kasih.”
Bi Ijah meninggalkan ku sendiri di ruang tamu. Tak lama kemudian El keluar dari kamarnya, dan dia tampak mempesona seperti biasanya meskipun dandanannya tidak terlalu istimewa. Hanya mengenakan baju kasual dengan make up tipis.
“Kelamaan nunggu, ya?”
“Ngga juga.” Kataku.
Setelah dia berpamitan, Aku dan El memutuskan untuk ke Andakar Steak Duren Tiga. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, aku masih tetap tidak bisa menahan rasa yang terus berkecamuk di dalam hatiku.
Malam itu Andakar ramai sekali, kami harus menunggu lebih dari 20 menit untuk bisa parkir dan masuk ke dalam resto. Satu tempat yang tersisa hanya di pojok ruangan. El memesan satu Sirlon import dan Citrus, sedangkan aku memesan satu Tenderloin import dan teh manis hangat. Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu pesanan kami datang. Bahkan kemudian sambil makan kami masih tetap ngobrol. Diiringi alunan lagu Jazz yang mendayu membuat malam itu begitu sempurna untukku. Kesempurnaan malam itu akan semakin lengkap bila El resmi menjadi kekasihku.  
“El, ada yang ingin kukatakan padamu.”
El terdiam sesaat.
“Mau ngomong apa, Mas?”
Kutatap mata El, dan kugenggam erat jemarinya.
“El, aku tahu kita baru saling mengenal. Aku tahu masih banyak yang harus kita pahami satu sama lain. Tapi untukku, kedekatan kita beberapa bulan terakhir ini sudah cukup untuk mengatakan semua ini.”
“Kamu membuatku menjadi bingung. Apa sih, Mas?”
Ku tatap mata El, dan kulihat binar yang berbeda dari biasanya. Seketika itu juga kurasakan rasa ragu kembali hadir di dalam dada ku.
“El, may I ask you something?”
“Yes, please. Mau tanya apa?”
“Aku ingin tahu, adakah ruang di hatimu untukku? Bukan hanya sebagai seorang teman.”
El terlihat canggung dengan pertanyaanku, tak ada kata yang terucap, hanya senyum yang kulihat dari bibirnya. Dia diam sesaat..
“Emangnya kenapa, Mas?” dia bertanya.
“Karena aku sayang kamu.”
Keheningan kembali datang di antara kami. Kulihat wajah El sedikit berubah, raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia berusaha untuk tersenyum, tapi aku tahu dia tidak ingin. Sesaat kami hanya saling berpandangan tanpa kata.

“Mas, Aku tersanjung. Mas baik banget…” Dia tidak melanjutkan ucapannya.
“Dari pertama kita bertemu aku tahu aku suka kamu. Saat kamu bilang kamu suka aku, aku tahu aku semakin menyukaimu. Aku ingin mengatakan ini semua sejak dulu, tapi kamu tahu kan alasanku saat itu. Aku memintamu untuk bersabar, aku memintamu memberikan waktu untukku agar aku mampu memulainya lagi. Dan kini aku sudah mengungkapkan semua rasa yang selama ini kupendam. Sekarang semua terserah padamu.”
Kami kembali terdiam, tidak ada kata yang terucap darinya.
“El, aku minta kamu jujur. Apapun yang akan kamu katakan takkan mengubah apapun. Aku akan menerimanya”
“Mas, kamu tahu aku juga sayang kamu..” El berhenti sejenak dan menghela nafas. “Tapi… Aku ngga bisa membalas rasa cintamu…”
Mendengar apa yang dikatakannya, kurasakan jantungku berdetak sangat cepat. Udara malam yang sejuk malah membuatku gerah. Sinar rembulan yang bersinar seperti hilang ditelan gelapnya malam. Suasana malam itu seketika menjadi sangat tidak bersahabat denganku. Bahkan kurasakan nyawaku perlahan keluar dari ragaku. Aku berusaha meredam rasa kecewaku dan bertanya padanya.

“Kenapa El?”
“Aku ga bisa Mas, semua udah berubah dan terlambat. Dulu saat kita baru saling mengenal, saat kita baru saling bertemu aku memang sangat menyukaimu bahkan aku juga mencintaimu. Tapi ingatkah kau apa yang terjadi saat aku mengungkapkan rasa suka ku padamu? Kau malah memintaku memberikan waktu untukmu berfikir. Mungkin bila saat itu kau menerimaku, aku yakin kita akan selalu bersama selamanya.”
“Kamu ingat kan kenapa aku waktu itu meminta waktu? Kamu ingat alasanku?”
“Tidak, emang apa alasanmu?”
“Aku pernah bercerita padamu, saat itu aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan Niken.”
“Lalu?”
“Itulah alasanku. Bila aku menerimamu saat itu, aku takut menyakitimu, El. Aku tidak mau menerimamu hanya sebagai pelarian saja. Itulah mengapa aku meminta waktu, untuk meyakinkan hatiku bahwa aku mencintaimu seutuhnya.”
Kulihat El menundukan kepalanya, kurasakan tangannya bergetar. Kulepaskan genggaman tanganku. Suasana hening untuk sesaat. Kemudian…
“Ada alasan lain yang ingin kamu sampaikan? Apakah sedang dekat dengan seseorang saat ini?”
El memalingkan wajahnya dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku.
“Iya, Mas. Aku sedang dekat dengan beberapa orang.” Dia menjawab tanpa memandangku
“Jadi itu alasanmu?”
“Mas, sejak saat kau memintaku memberikan waktu untukmu berfikir, aku merasa kau menolakku. Jadi… aku tidak mau mengharapkanmu lagi.”
Kami sama-sama membisu lagi.
“Maaf kan aku, Mas.” El tertunduk dan terdiam.
“Itu adalah pilihanmu, keputusanmu. Seperti apa yang tadi aku bilang, apapun jawaban mu tidak akan mengubah apapun. Yang penting aku udah ungkapin semua, dan aku tahu aku terlambat.”
“Mas.. Ga ada yang akan berubah kan diantara kita?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Meskipun aku yakin hal tersebut tidak mudah. Aku juga tidak ingin menjadi duri dalam hubungan mereka.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Kecewa, marah, kesal, rasa bersalah, sedih, benci. Aku tahu ini kesalahanku juga, kenapa aku mesti ragu di awal hubungan kami? Mengapa aku harus takut memulai sesuatu yang baru. Mengapa harus kulewati kesempatan indah itu. Aku bahkan belum sempat mengenalkannya pada mama.

Annisa Elisa Francis Imanuliasa, semua kenangan indah denganmu akan selalu kuingat, meskipun kau bukan milikku.