Sunday, January 13, 2013

..Indahnya Pagi...

Pagi ini terasa begitu berbeda, penuh dengan kedamaian dan juga kesejukan.

Kubuka kedua mata perlahan memandang jam di dinding kamar yang berdetak tanpa henti seiring bergulirnya waktu, jam lima lewat tiga puluh lima menit, terlalu pagi untukku membuka mata apalagi di hari minggu. Udara pagi ini pun memberi kenyamanan lebih untuk tetap berada di balik selimut dan menghangatkan badan berusaha menghilangkan rasa dingin yang menyengat.

Kualihkan pandanganku kearah jendala kamar, hujan rintik masih tersisa mengguyur kota ini setelah hujan deras semalam yang membuat aku menggigil kedinginan. Sayup kudengar kicau burung yang bernyanyi merdu diantara suara rintik hujan yang menyapa lembut kaca jendala kamar ini.

Perlahan aku beranjak dari tempatku berlabuh malam tadi dan kulangkahkan kaki menuju balkon kamar yang terbuka lebar dihadapanku. Kurasakan udara dingin semakin menyengat seiring langkah kaki yang semakin mendekat balkon itu, bau tanah yang terjamah oleh tetesan air hujan mulai tercium oleh hidungku, bahkan aku seperti bisa merasakan dahaga tanah itu yang terhapuskan oleh sentuhan lembut air hujan pagi ini. Indahnya pagi ini pun semakin kurasakan saat mata ini melihat indahnya lahan hijau sawah dan pegunungan yang membentang luas ditemani birunya langit berhiaskan awan hujan yang menggelayut mesra tanpa ragu.

Seketika mataku teralihkan dari semua keindahan itu, kutatap sebuah meja bulat kecil yang ada di balkon kamar dan di atas meja itu kulihat dua buah cangkir bermotif bunga mawar merah yang terlihat begitu elegant, diantara cangkir tersebut kulihat sebuah poci putih yang juga bercorak senada dengan cangkir tersebut, wangi kopi hangat yang keluar dari poci tersebut begitu terasa hingga ke dalam lubuk jiwa ini menanti untuk segera diminum menggantikan rasa dingin pagi ini dengan hangatnya secangkir kopi.

Ada yang janggal bagiku, kenapa hanya ada satu cangkir yang penuh kopi hangat berada di atas tatakan cangkirnya di meja bulat tersebut, kemana satu cangkir lagi yang hanya meninggalkan tatakan cangkirnya, dan pertanyaanku pun terjawab...
Dari salah satu kursi rotan yang mengapit meja bulat berdirilah seseorang yang kukenal, tubuhnya lebih tinggi dariku, kulitnya putih bersih, diapun tersenyum padaku. Wajah itu, tatap lembut mata itu, senyum manis bibir itu, semua masih sama seperti awal aku bertemu dan mengenalnya. Setelah menyeruput kopi hangat dari cangkir yang berada di tangan kanannya, dia pun menyapaku "Selamat pagi..."

Seketika aku tersentak dan membuka mataku lebar-lebar, ternyata semua itu hanya mimpi indahku di pagi yang dingin ini. Aku pun tersenyum dan bersyukur karena mengenalmu. :)