Kutatap wajah Aryo yang tertidur pulas di sampingku, kuamati tiap sudut wajahnya, dia memang mempesona. Kubelai lembut rambut ikalnya dan kukecup pipi tembemnya, sesaat mata yang tadi terpejam perlahan terbuka dan menatapku dengan penuh kasih sayang.
“Morning, Iyo.” Sapaku.
“Morning, Ei.” Aryo tersenyum mengecup hangat pipiku.
Pagi ini terasa begitu indah, karena dia ada di sisiku dan menemaniku walau hanya diam dalam peluknya. Kurasakan hangat sentuhannya membelai tubuhku, dan aku tak ingin melewatkan saat – saat bersamanya walaupun hanya sedetik pun.
“Kamu jadi ke PIM sama Ichsan, Ei?”
“Jadi, nanti agak sore. Kamu jadi ke rumah Citra?” tanyaku tak bersemangat.
Aryo tak menjawabnya, dia hanya membelai lembut rambutku dan memeluk tubuhku semakin erat, aku diam tak bergeming. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kuungkapkan saat Aryo bersamaku, pertanyaan tentang Citra.
Waktu berlalu tanpa kusadari dan entah berapa lama aku tertidur pulas di pelukan Aryo, aku tersadar saat handphoneku berdering.
“Hallo, San.”
“Woi cuy, dimana loe? Dari tadi gue telpon ga loe angkat. Btw, ntar gue ga jadi ke PIM, soalnya nyokap minta anter ke tempat saudara nih.” Suara Ichsan terdengar bagai petir siang hari tanpa hujan.
“Iiihh suara loe pelanin napa, sakit kuping gue dengarnya. Yaah, gimana sih loe, trus gue sama siapa dong ke sana ? Kalau sendiri gue juga males ah.”
“Hehehehee, sorry cuy, nyokap juga baru bilang nih. Kalau gue ga anterin ntar durhaka gue dong. Loe ajak Aryo aja gih.”
“Ga bisa, dia udah ada acara. Ya udah gue juga ga jadi deh, ga apa – apa lo anter nyokap aja. Salam sama nyokap lo yah.”
“Sip cuy, ntar gue sampein salam lo. Capcus yah, bye.”
Ichsan memang sahabat karibku, dia tau semua yang terjadi dalam hidupku, dan dia orang yang pandai menjaga rahasiaku.
“Pasti si Ichsan yah? Suaranya menggelegar.”
“Iya, dia kasih kabar kalau nanti sore dia ga jadi ke PIM. Aku juga males ah kalau sendiri ke sana .”
Kulirik jam di handphoneku, jam tiga lewat empat puluh lima menit sore hari.
“Kamu bisa ga nemenin aku ke PIM?” Pintaku .
“Aku kan mau ke rumah Citra, kan kamu juga tau itu.”
“Kenapa sih selalu Citra dan Citra lagi.” Kulepaskan pelukan Aryo dan duduk di ujung tempat tidur.
“Ei, please, kita kan udah sering membahas semua ini.”
“Tapi kalau begini terus aku bete juga, Yo, tiap saat selalu ada Citra dan Citra terus.”
Aryo pun beranjak dari tidurnya dan duduk di ujung tempat tidur yang berlawanan denganku.
“Kenapa sih ga kamu pentingin aku dari pada Citra? Selalu Citra dan Citra. Lalu aku ini apa?”
“Please, Ei, aku ga mau cuma karena masalah ini kita ribut lagi.”
“Tapi, Yo..”
Belum selesai aku berbicara, kulihat Aryo melangkah menuju kamar mandi, aku hanya tertegun terdiam melihatnya. Perasaanku kembali tak menentu, mengapa selalu ada Citra diantara kami berdua.
Satu jam berlalu, akhirnya Aryo keluar dari kamar mandi, dan dia sudah terlihat rapih. Kaos polo biru serta jeans hitam sudah melengkapi penampilannya sore itu. Aryo menghampiriku dan duduk disebelahku. Dia menatapku dan menggenggam erat tanganku.
“Ei, kamu tau kan , kita sudah membahas semuanya sebelum kita menjalani hubungan ini. kamu juga sudah berjanji akan siap menerima semuanya, apapun itu. Apa kamu ragu padaku?” Aryo menatapku penuh arti.
“Aku bukannya ragu padamu, aku percaya seutuhnya. Tapi aku mohon kamu mengerti perasaanku, tidak mudah bagiku menjalani ini semua. Tiap kamu bersamanya aku merasakan kekecewaan dalam diriku. Saat kulihat kau menggenggam tangannya, kurasakan sakit dalam hatiku. Apa lagi tinggal menghitung hari…” aku tak dapat menyelesaikan kalimatku.
“Aku tau, aku paham dan aku juga tak ingin mengecewakanmu. Tapi kumohon mengertilah juga keadaanku, kuharus menjalani ini semua dengan perjuangan yang tak mudah. Percayalah, tidak akan ada yang berubah diantara kita sampai kapanpun dan apapun yang terjadi aku akan selalu menyayangimu dan kuharap kau akan selalu menyayangiku.”
Aryo memeluk erat tubuhku dan membisikan kata yang membuatku terdiam “I love you forever” dan dikecupnya pipiku. Kuhanya dapat terdiam saat Aryo berpamitan untuk menuju rumah Citra, wanita yang akan dinikahinya tiga minggu lagi.
Begitu berat jalan yang telah kupilih, untuk hidup bersama seseorang yang juga mencintai orang lain dalam hidupnya. Walaupun aku tau semua resiko yang akan kuhadapi dalam perjalanan hubungan ini sejak awal, namun dalam kenyataan semua itu jauh lebih berat.
Setiap dia tidak ada di dekatku dan aku tau dia bersamanya,itu membuatku merasa tersakiti. Setiap aku melihat dia bersamanya, memegang tangannya, memeluknya, bahkan saat dia menciumnya, kurasakan jantungku bagai tertusuk jutaan samurai. Apalagi bila aku teringat hari pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung minggu, membuatku semakin membenci Citra. Kenapa harus Citra? Kenapa bukan aku yang dinikahi Aryo?
Tapi, apa dayaku, aku tau apa yang aku jalani saat ini adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Apa yang aku harapkan dari hubungan ini? Menikah? Kurasa tidak mungkin. Semua ini hanyalah kebahagian semu yang membelengguku sekarang dan mungkin selamanya. Andai saja hanya ada aku dan kamu tanpa dia, hanya ada Eri Andri Kusama Putra dan Putra Dwi Aryo tanpa Prastiwi Citra Wulandari.
No comments:
Post a Comment